Tips Kesehatan | Resep Tradisional

Monday, October 31, 2016

Cara Melakukan Terapi Diabetes Mellitus dengan Air Putih

Diabetes Mellitus adalah penyakit yang sangat serius karena termasuk penyakit the silent killer atau “pembunuh diam-diam”. Banyak penderita biasanya tidak menyadari bahwa dirinya mengidap penyakit ini sehingga penyakit kerap kali terdeteksi setelah penyakit menjadi parah dan bahkan kadang sudah komplikasi. 


Kondisi ini di samping karena minimnya informasi tentang Diabetes terutama gejala-gejalanya, juga karena gejala penyakit ini tidak mempunyai gejala yang khas. Karenanya, serangan diabetes itu mirip serangan rayap, bekerja diam-diam dan merusak organ di dalam tubuh. Namun sebenarnya, yang mematikan adalah komplikasinya, bukan diabetesnya.

Sebelum membahas lebih jauh, perlu didefinisikan terlebih dahulu apa yang dimaksud penyakit diabetes ini. Diabetes adalah gangguan metabolisme di mana tubuh tidak bisa mengendalikan tingkat gula (glukosa) dalam darah. Dalam hal ini, glukosa sangat tinggi yang disebabkan karena tubuh tidak dapat melepaskan/menggunakan insulin secara efektif atau tubuh tidak bisa mencukupi produksi insulin.

Kondisi itulah yang menyebabkan tingginya gula di dalam darah dan jika ini terjadi kronis (hiperglikemia) maka ini dapat menjadi racun bagi tubuh. Pada tubuh normal, insulin yang bertugas mengangkut gula melalui darah ke otot dan jaringan lain dilepaskan atau diedarkan oleh pankreas untuk memasok energi. Namun pada penderita diabetes, hal ini mengalami gangguan sehingga glukosa dalam darah menumpuk.

Jenis-jenis Diabetes
Kadar gula darah memang bervariasi sepanjang hari, bisa meningkat setelah makan dan kembali normal 2 jam setelah makan. Kadar gula yang normal bisa meningkat dengan cara yang ringan namun progresif setelah usia 50 tahun. Hal ini terutama pada orang-orang yang kurang gerak atau olah raga. Jika kadar gula darah terlalu rendah atau terlalu tinggi, sama-sama dapat menyebabkan komplikasi yang serius.

Pada pagi hari setelah semalam sebelumnya berpuasa, normalnya adalah 70-110 mg/dL darah. Sedangkan 2 jam setelah makan, kadar gula darah normalnya adalah kurang dari 120-140 mg/dL pada 2 jam. 


Pengukuran ini bisa dilakukan sendiri di rumah dengan menggunakan strip uji maupun dengan menggunakan meteran. Dan untuk mendapatkan hasil yang lebih baik, Anda bisa menggunakan bantuan tenaga medis di rumah-rumah sakit atau puskesmas.

Penyakit yang tidak bisa disembuhkan ini terdapat tiga macam, diabetes melitus tipe 1, diabetes melitus tipe 2, dan diabetes melitus tipe 3.

1#Diabetes melitus tipe 1
Diabetes tipe 1 ini adalah jenis diabetes yang menyerang anak-anak dan orang dewasa. Ia terjadi karena berkurangnya rasio insulin dalam sirkulasi darah yang disebabkan karena hilangnya sel beta penghasil insulin. Karenanya, gejala diabetes tipe 1 ditandai oleh penurunan kadar insulin dan penderita memerlukan insulin dari luar. 


Dalam hal ini, tubuh penderita tidak bisa memproduksi insulin dalam jumlah yang sangat sedikit atau bahkan tidak sama sekali. Hal ini menyebabkan glukosa dalam darah semakin meningkat dan sel-sel tubuh tidak mendapatkan asupan energi yang cukup.

Penderita diabetes mellitus tipe 1 ini sangat berisiko mengalami ketoasidosis (glukosa darah tinggi), koma, dan kematian. Penderita juga dapat mengalami dehidrasi karena ppenderita mengalami peningkatan buang air kecil sebagai reaksi untuk mengurangi kadar gula. 


Penderita juga bisa mengalami penurunan berat badan karena glukosa banyak mengandung nutrisi dan kalori ini banyak dibuang oleh tubuh melalui urine sehingga menyebabkan penderita mengalami penurunan berat badan secara drastis.

Yang lebih parah lagi, pendeirta akan mengalami kerusakan pada jaringan tubuh yang disebabkan karena tingginya kadar gula dalam darah. Kondisi ini juga akan merusak banyak organ dalam tubuh seperti pembuluh darah kecil pada mata, ginjal, dan jantung. Oleh karena itu, maka penderita diabetes mempunyai risiko yang sangat tinggi mengalami Serangan Jantung dan Stroke.

Sebagaimana telah disinggung di muka bahwa gejala-gejala ini biasanya sulit untuk dikenali, terutama pada anak-anak. Karenanya, penderita biasanya baru ketahuan mengidap penyakit ini setelah dibawa ke dokter akibat menderita dehidrasi berat, koma diabetikum, atau terjadi ketoasidosis diabetik atau adanya keton, suatu zat racun yang membuat darah menjadi asam.

Beberapa gejala yang sering timbul pada penderita diabetes mellitus tipe 1 ini ialah seperti merasa harus (polidipsia) dan lapar (polifagia) yang terjadi terus-menerus dan rasa lapar ini biasanya timbul khususnya setelah makan. Penyakit ini juga ditandai dengan kondisi mulut kering, mual hingga muntah, dan selalu merasa lelah dan lemas tidak bertenaga (fatigue). 


Penderita juga mungkin akan mengalami sering buang air kecil (poliura), gangguan penglihatan, penurunan berat badan sekalipun makannya banyak, nyeri hebat pada perut khususnya daerah lambung, terjadi luka atau infeksi pada kulit dan saluran kemih, serta bernapas lebih cepat.

Lalu apa penyebabnya? Penyebab yang dianggap paling sering ialah faktor genetik. Karenanya, anak-anak dengan orang tua menderita diabetes 1 ini mempunyai kecenderungan yang sangat tinggi mengidap diabetes daripada anak dengan orang tua yang tidak menderita. 


Selain itu, penyakit ini juga dimungkinkan terjadi karena virus atau racun yang masuk ke dalam tubuh yang mungkin akan memicu sistem imun untuk mengganggu produksi hormon insulin di pankreas sehingga pankreas akan mengalami gangguan. Kelompok ras kulit putih juga diduga kuat lebih rentan terserang diabetes ini daripada ras lainnya.

2#Diabetes melitus tipe 2
Diabetes mellitus tipe 2 ini merupakan tipe diabetes yang lebih sering dijumpai dan bahkan hingga mencapai 90% dari semua kasus diabetes yang terjadi. Diabetes tipe 2 yang sering menyerang orang dewasa ini berbeda sama sekali dengan diabetes tipe 1 di atas yang disebabkan karena tubuh tidak memproduksi insulin. Karenanya, penderita diabetes tipe 2 tetap memproduksi insulin.

Lalu mengapa glukosa dalam darah meningkat? Ini disebabkan karena jumlah insulin yang diproduksi tubuh tidak memadahi sehingga tubuh kekurangan insulin, baik karena sel-sel tubuh tidak merespon insulin sebagaimana mestinya (resistensi insulin). Akibatnya, gula darah menjadi meningkat sehingga terjadilah apa yang disebut dengan diabetes mellitus tipe 2.

Sama seperti diabetes mellitus tipe 1, tingginya kadar gula darah pada penderita diabetes mellitus tipe 2 yang dibiarkan cukup lama juga dabat mengakibatkan terjadinya dehidrasi dan berbagai kerusakan pada saraf. Bahkan jika diabetes parah, akan timbul berbagai komplikasi, khususnya penyakit kardiovaskular seperti penyakit jantung iskemik dan stroke.

Penderita diabetes tipe 2 mempunyai dua sampai empat kali lipat risiko terserang penyakit ini. Dan penyakit ini juga tergolong sebagai penyakit yang sangat berbahaya karena bisa berakibat pada kematian penderita. 


Selain itu, penderita juga berisiko mengidap gagal ginjal dan bahkan memiliki risiko 20 kali lipat kemungkinan amputasi pada tungkai bawahnya. Penyakit ini juga bisa menyebabkan kebutaan non-traumatik, alzaimer, demensia, disfungsi seksual, sering mengalami infeksi, dan sebagainya.

Gejala diabetes mellitus tipe 2 ini hampir sama dengan gejala diabetse mellitus tipe 1 di atas. Beberapa gejala yang sering timbul ialah terjadi penurunan berat badan tanpa alasan yang jelas, sering buang air kecil (poliura), sering merasa haus (polidipsia), dan sering merasa lapar setelah makan (polifagia). 


Beberapa gejala lain yang juga kerap muncul ialah timbulnya gangguan penglihatan (pandangan kabur), sakit kepala, gatal-gatal, infeksi vagina berulang, mudah mengalami infeksi kulit, dan kelelahan (lemah dan merasa capek).

Namun yang perlu diingat bahwa sebagian penderita tidak mengalami dan merasakan gejala apapun pada beberapa tahun pertama. Penderita baru akan mengetahuinya setelah pemeriksaan rutin atau ketika komplikasi sudah muncul menyerang pada stadium yang sudah parah.

Meskipun diabetes ini umum terjadi namun penyebab pastinya belum diketahui secara pasti. Namun demikian, lagi-lagi faktor genetik dan gaya hidup diyakini mempunyai hubungan yang sangat erat dalam perkembangan diabetes tipe 2 ini. 


Selain itu, penyakit ini juga diduga kuat berkaitan dengan obesitas, diet, usia, dan jenis kelamin (wanita). Lebih dari itu, diabetse ini juga berkaitan dengan kebiasaan kurang tidur karena hal ini bisa memberikan efek kurang baik bagi metabolisme.

3#Diabetes melitus tipe 3
Diabetes mellitus tipe 3 ini merupakan jenis diabetes yang banyak terjadi pada wanita ketika periode kehamilan. Di samping itu, sesuai namanya, Diabetes melitus gestasional, diabetes ini hanya terjadi selama kehamilan dan akan sembuh dengan sendirinya setelah melahirkan. Meski begitu, diabetes ini tetap memerlukan pengobatan dan penanganan yang serius selama kehamilan sebab bila tidak hal ini bisa membahayakan kesehatan janin maupun sang ibu.

Beberapa risiko tersebut misalnya berupa berat bayi yang di atas normal atau terlalu tinggi (karsinoma), kelainan sistem saraf pusat, kelainan jantung, dan cacat otot rangka. Beberapa risiko lainnya adalah masalah penghambatan insulin terhadap produksi surfaktan janin, hyperbilirubinemia, kematian sebelum kelahiran, dan gangguan pernapasan.

Sedangkan pada ibu, diabetes gestasional bisa meningkatkan risiko diabetes mellitus tipe 2 di kemudian hari, seksiosesarea atau melahirkan lewat cesar, dan meningkatkan risiko preeklampsia atau toksemia (tekanan darah tinggi pada ibu hamil dan kelebihan kadar protein dalam urine (proteinuria). Dari penjelasan di atas dapat dikatakan bahwa diabetes tipe 3 ini dapat merusak kesehatan janin atau ibu.

Diabetes gestasional ini biasanya terjadi pada minggu ke 24 sampai ke 28 pada masa kehamilan dan akan kembali normal dalam 6 minggu setelah persalinan. Persentase jumlah penderita diabetes ini yang mampu bertahan hidup ialah hanya antara 20–50%.

Adapun penyebab utama penyakit ini adalah interleukin 6 serta protein reaktif C di lintasan patogenesisnya. Penyakit ini juga disebabkan oleh perubahan hormonal yang terjadi selama kehamilan. Terjadinya peningkatan kadar beberapa hormon oleh plasenta ini menyebabkan sel-sel dalam tubuh menjadi kurang responsif terhadap insulin (resistensi insulin). Hal ini lama-kelamaan akan membuat produksi hormon menjadi semakin banyak yang pada akhirnya juga dapat memperberat resistensi insulin yang telah terjadi.

Terjadinya diabetes gestasional ini juga didukung oleh beberapa faktor risiko seperti diabetes mellitus tipe 2, genetik (riwayat diabetes pada keluarga), obesitas (biasanya terjadi pada usia 40 tahun), dan riwayat diabetes melitus gestasional sebelumya. 


Faktor risiko lainnya adalah stres dan merokok, riwayat intoleransi glukosa, mengonsumsi bahan kimia dan obat-obatan, abortus berulang, mengkonsumsi karbohidrat berlebihan, riwayat preeklampsia, kerusakan pada sel pankreas riwayat melahirkan dengan cacat bawaan atau bayi >4000 gram sebelumnya, brusia di atas 25 tahun saat hamil, dan memiliki tekanan darah tinggi.

Penyakit ini juga berkaitan dengan pola makan yang berlebihan sehingga jumlah kalori berlebihan. Jika ini tidak diimbangi oleh sekresi insulin yang cukup maka kadar gula dalam darah akan menjadi meningkat.

Pun gejala penyakit ini tidak jauh berbeda dengan diabetes tipe 1 dan tipe 2. Begitu pula sifatnya, umumnya tidak menunjukkan gejala sama sekali. Karenanya, pada wanita dibutuhkan tes dan screening pada setiap wanita hamil untuk mendeteksi penyakit ini. Dan beberapa gejala yang mungkin terjadi ialah di mana penderita pada umumnya juga mengalami poliuria (banyak kencing), polidipsia (haus dan banyak minum), dan polifagia (banyak makan).

Lebih dari itu, penderita juga mengalami lemah dan tidak bertenaga, pandangan menjadi kabur, kesemutan, gatal-gatal di kulit dan kemaluan, pusing mual dan sampai muntah, sering mengalami infeksi pada daerah luka, kulit dan juga vagina, berat badan menurun sekalipun napsu makan meningkat, gula darah sewaktu >200 mg/dl, dan gula darah 2 jam >200mg/dl. 


Sedangkan gula darah puasa >126 mg/dl dan juga mengalami beberapa keluhan lainnnya seperti keputihan, bisulan, sering mengantuk, terjadi ketonemia (kadar keton berlebihan dalam darah), dan glikosuria(ekskresi glikosa ke dalam urin).

Cara air putih sembuhkan diabetes dan cara terapinya
Air putih yang Anda minum juga bisa menurunkan kadar gula darah. Peranan air putih dalam menurunkan kadar gula darah tinggi (hiperglikemia) hingga 21%. Karenanya, jika kadar gula darah Anda meningkat, minumlah air putih sebanyak 8 gelas setiap hari dan lakukan terapi ini selama 30 hari.

Di samping itu, ubahkan pola makan Anda dengan cara memakan makanan rendah karbohidrat dan makanlah makanan yang mengandung serat tinggi. Jika Anda mengalami obesitas, turunkan berat badan Anda sehingga Anda mendapatkan berat badan ideal. 


Selain itu, lakukan olahraga secara teratur sebab tubuh yang aktif dapat membakar gula darah. Dan yang tidak kalah pentingnya adalah istirahatlah yang cukup sebab ini akan memungkinkan tubuh bisa memproses glukosa dalam darah secara efektif sehingga membantu menurunkan gula darah.

Cara Melakukan Terapi Diabetes Mellitus dengan Air Putih Rating: 4.5 Diposkan Oleh: sehat-itu-mudah

0 comments:

Post a Comment